KISAH PENAMBANG BATU

KISAH PENAMBANG BATU

PENAMBANG BATU

Hari itu cuaca cerah, langit terlihat begitu biru, tak ada awan mendung sejauh mata memandang. Hari yang pas untuk menikmati indahnya ciptaan sang maha tinggi. Saat itu saya berencana pergi ke laut yang jaraknya tak begitu jauh dari tempat saya tinggal.  Saya ingin menikmati deburan ombak dan empasan angin yang mungkin akan melepas sebagian beban perjalanan hidup. Tak disangka di tengah perjalanan, ban motor kesayangan bocor. Saya bergegas mencari bengkel terdekat. Syukurlah, tak jauh terlihat tumpukan ban bertuliskan “tambal ban”. Saya langsung menghampiri bengkel tambal ban itu dan meminta abang bengkel agar segera menambal ban motor milik saya.  Ternyata bengkel itu berseberangan dengan sebuah kompleks pertambangan batu yang tak begitu luas. Dari kejauhan terlihat seorang penambang yang membawa palu besar menuju ke tengah tambang. Dia mendekati sebuah batu yang cukup besar. Ternyata ia ingin membelah batu tersebut. Sambil menunggu ban motor ditambal, saya mengamati penambang yang terus memukulkan palunya ke bongkahan batu. Berkali-kali dipukul tapi batu tak kunjung terbelah. Sepuluh menit berlalu, mentari bersinar semakin terik dan tenggorokan saya terasa semakin mengering. Saya menuju warung sebelah bengkel dan segera membeli air minum. Walau hanya air putih, tapi terasa begitu segar saat masuk ke tenggorokan. Tak terasa Dua Puluh menit berlalu, ban motor telah selesai ditambal. Tapi di seberang penambang belum mampu membelah batu itu. Entah kenapa saat itu saya menjadi penasaran apakah batu itu bisa terbelah. Saya pun menunggu lebih lama untuk mengamati penambang yang terus memukul batu yang sepertinya begitu keras. Sampai Satu jam berlalu dan terlihat penambang mulai meninggalkan batu itu. Saya sangka penambang mulai putus asa dan memilih menyerah membelah batu. Tapi ternyata penambang hanya istirahat untuk meminum beberapa teguk air dan sedikit meregangkan otot-otot yang kaku saja. Tak begitu lama ia kembali memukul batu besar itu. Saya semakin penasaran kenapa penambang tak menyerah, padahal batu yang terus dipukulnya seakan mustahil terbelah. Beberapa menit berlalu, tiba-tiba batu itu terbelah. Saya pun mencoba menghampiri penambang itu. Sepertinya ia tahu sedari tadi saya terus mengamatinya. Saat saya sampai, dia berkata “Sekitar 100.000 kali saya memukul batu ini. Menurut Anda di pukulan ke berapa yang membuat batu ini bisa hancur?” Tanpa pikir saya menjawab pukulan ke 100.000. Tapi penambang itu hanya tersenyum dan berkata ”Anda salah, yang membuat batu ini hancur adalah pukulan ke 1 sampai ke 100.000”.

Konsistensi, inilah faktor besar yang bisa jadi penentu keberhasilan kerja keras kita. Sesuatu yang sangat berat, sangat membosankan, dan sangat memuakkan. Sesuatu yang lebih susah untuk dijalankan ketimbang mengambil langkah besar di awal. Bahkan langkah besar yang kita ambil di awal bisa terbuang percuma jika tidak diteruskan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang secara konsisten kita terapkan, kita lakukan, dan kita usahakan dalam menggapai cita. Banyak dari kita tidak bisa meraih cita karena gagal dalam konsistensi. Perkataan penambang tadi dapat kita telaah lebih dalam, bahwa setiap tindakan kita akan mempengaruhi hasil akhir usaha dan kerja keras. Seorang penambang tidak bisa membelah batu dengan satu pukulan super, tapi ia mampu membelahnya dengan ratusan ribu pukulan konsisten. Ia tak memiliki palu sakti Thor, tapi ia memiliki mental dan fisik yang bisa mengeluarkan kekuatan sakti bernama semangat dan konsistensi. Istirahat itu perlu, tapi jangan jadikan istirahatmu menjadi penghambat kebiasaan baikmu. Istirahatlah untuk mengambil ancang-ancang langkahmu selanjutnya. 

Komentar